Kubu Prabowo-Hatta meminta kepada direktur lembaga survei Indikator, Burhanuddin Muhtadi, untuk tidak sesumbar soal quick count yang dikeluarkannya.
Hasil quick count yang dikeluarkan oleh Burhanuddin dan teman-teman lembaga survei lainnya yang menunjukan Jokowi-Jusuf Kalla (JK) menang, bisa saja meleset dengan real count dari KPU.
"Itu pernyataan yang terlalu pede dan telah memagari keputusan yang akan diambil oleh KPU sebagai lembaga negara yang diamanatkan UU untuk menentukan pemenang Pemilu," ujar juru bicara tim pemenangan Prabowo-Hatta, Tantowi Yahya di Jakarta, Jumat (11/7/2014).
Menurutnya, sampai saat ini belum ada yang bisa memastikan pihak mana yang akan menang di pilpres. Sebab, menunggu hasil penghitungan manual KPU.
"Hendaknya teman saya, Burhanudin tidak terlalu semangat dan menggebu-gebu. Belanda masih jauh. Kebenaran absolut hanya milik Allah," imbuhnya.
Sebelumnya beberapa lembaga survei yang terhimpun dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) menggelar konfrensi pers di Hotel Atlet Century, Kamis (10/7) sore kemarin.
Dalam acara tersebut seluruh lembaga survei yang mengeluarkan hasil quick count di pilpres diundang. Mereka yang hadir adalah SMRC, Indikator, LSI, Litbank Kompas, CSIS, dan Populi. Sisanya seperti Puskaptis, LSN, IRC, dan JSI tidak hadir dalam acara tersebut.
Dalam acara tersebut, Direktur Indikator Buhanuddin Muhtadi kembali memastikan apa yang dikeluarkan lewat quick countnya sudah sesuai dengan data yang masuk.
Bahkan Burhanuddin menyakini hasil quick countnya tidak akan berbeda dengan hasil penghitungan asli atau real count
"Kalau ada perbedaan antara empat yang datang di sini beda dengan apa yang dilansir KPU, saya percaya KPU yang salah. Bukan kita yang salah, KPU. Pasti ada proses kecurangan dari proses rekapitulasi dari bawah hingga tingkat pusat. Karena penghitungan berjenjang itu berpotensi kecurangan," tegas Burhanudin. [rok]
"Sebaiknya kubu Jokowi hati-hati menggunakan data. Kasihan publik disodori informasi tidak valid," kata pengamat politik Igor Dirgantara, Jumat (11/7).
Seperti diketahui, Jokowi diberitakan menang tipis dengan perolehan Jokowi-JK 57%, suara, sedang Prabowo-Hatta 42,9%.
Kabar Jokowi menang di Mesir terbantahkan setelah Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Mesir mengeluarkan data. Prabowo-Hatta menang dengan mengantongi 70,2 persen suara. Joko Widodo-Jusuf Kalla mendapat 27,6 persen
Klaim lainnya soal exit poll Arab Saudi. Kubu Jokowi-JK mengaku jagoannya meraih sekitar 75 persen, sedangkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan 20 persen suara.
Klaim exit poll Arab Saudi berbeda jauh dengan hasil Panitia Pemilihan Luar Negeri Saudi Arabia. Suara kubu Prabowo-Hatta unggul 9.427 dan Jokowi-Jusuf Kalla 9.339. Selisih 88 suara.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi, mengumumkan hasil penghitungan suara Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 untuk wilayah kerja KJRI Jeddah. Prabowo-Hatta 51,22 persen, sedangkan Jokowi-Jusuf 48,78 persen.
Tidak hanya itu klaim dari kubu Jokowi-JK. Mereka sudah mendeklarasikan kemenangan berdasarkan hitung cepat sejumlah lembaga survei, padahal penghitungan resmi KPU sedang berjalan.
Menanggapi klaim-klaim tersebut, Igor mengimbau semua pihak menunggu hasil akhir yang akan diumumkan Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli mendatang.
"Jangan justru mengintimidasi KPU dengan klaim bahwa quick count mereka yang benar. Otoritas tertinggi tetap ada di KPU," tegasnya.
Pengajar di Universitas Jayabaya ini juga meminta agar semua pihak belajar dari sikap SBY pada 2009. Meski selisih hitung cepat mencapai 20 persen, tetapi SBY tetap menunggu hasil final dari KPU. [rok]

No comments:
Post a Comment